Rabu, 09 September 2009

Cermin 1


Gambo
Amani Ogol kewalahan menghadapi istrinya yang sejak pagi uring-uringan. Ia tidak menyangka, kalau wanita yang sangat dicintainya itu mampu mengeluarkan kata-kata kasar untuk menyakiti hatinya.
"Sudah sepuluh tahun kita berumah tangga. Telepisi pun tak ada di rumah ini! Suami macam apa kau !"teriak Nai Ogol sambil melemparkan  "sonduk-dasar"  sejenis sendok yang digunakan pada saat memasak nasi. "Trak !!" sendok itu pun patah.
"Bah...Nai Ogol ! Sudah capek si Ogol membuat sendok itu, kau patahkan lagi"ujar Amani Ogol lembut.
"Biar !!! Sendok kampungan aja kau hitung-hitung! Dasar suami tidak tahu cari uang ! Suami jelek!Siroa balang!"ujar Nai Ogol dan mengambil kantongan sirih (hajut-hajut) dan memakannya. "Ceraikan saja aku, sekarang juga. Panggil semua teman semargamu, saya tidak perduli!"lanjutnya. Karena begitu emosinya, sekitar hidung dan mulutnya memerah akibat ludah merah yang memercik saat mengomel.
"Begini...Nai Ogol......maklumilah......dulu keadaan kita sekarang ini. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama, nasib kita berubah menjadi baik"jawab Amani Ogol dengan hati-hati mendekati istrinya. Ia takut tiba-tiba istrinya yang sedang berang itu menyemburkan cairan merah dari mulutnya.
"Keluar...! Jangan sampai ...." teriak Nai Ogol dan berupaya menjangkau kayu bakar yang disusun di "salean" (tempat kayu yang sengaja dibuat diatas tungku agar kering).Namun sebelum Nai Ogol berhasil mengambil kayu,  Amani Ogol langsung berlari  terbirit-birit keluar rumah. Dengan gontai Amani Ogol berjalan ke sebuah lapo tuak.
"Tuak amang boru!" Ia memesan segelas tuak. Pandangannya tertuju ke arah kepala desa dan  Tungko Tokoh Pemuda di desa itu,  sedang berdebat soal uang.
"Masak aku cuma capeknya saja!"ujar salah seorang dengan suara keras kepada kawannya.
"Ini kan proyek desa kita ini, berarti kita bekerja untuk orang banyak! Kita sudah melakukan  bakti sosial!"jawab lelaki
"Betul itu Amang Kades, tetapi jangan lupa ungkapan Molo mangula, ingkon pistik do gambo tu iba. Artinya, kita sudah bekerja dengan begitu banyak uang....... sudah wajarlah kita dapat sedikit uang lelah, kalau tidak dapat komisi"jawab Tungko dengan nada marah.
"Itulah kau.......tidak dapat memahami keadaanku. Tetapi...nih ! ala kadarnya saja. Tetapi hubungan kerja kita putus. Saya akan cari orang untuk menggantikan kau!"ujar Kepala desa dan menyerahkan sejumlah uang kepada Tungko.
Amani Ogol mendengar dengan seksama percakapan kedua orang itu. Ia pura-pura tidak memperhatikan mereka, namun jantungnya berdebar melihat sejumlah uang yang diterima Tungko. Tidak berapa lama, Tungko beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan kepala desa.
"Uhuk !Uhuk !" Amani Ogol batuk-batuk kecil untuk menarik perhatian kepala desa yang masih mengikuti Tungko dengan pandangannya.
"Bah...Amani Ogol....! Mendekatlah kemari, bawa tuakmu kesini"ujar Kepala Desa.
"Disini saja aku, Hampung"jawab AmaniOgol pura-pura.
"Alah......kesini sajalah....jangan takut! Nanti aku yang bayar tuakmu"lanjut kepala desa. Akhirnya Amani Ogol mendekat ke tempat duduk kepala desa.
"Serius kali kulihat Hampung"ujar Amani Ogol dengan senyum dikulum. Ia berharap perbincangan sekitar proyek yang disebut-sebut kepada Tungko itu dapat disampaikan kepadanya.
"Itulah si Tungko ini, baru bekerja lima hari, sudahmenuntut uang. Bagaimana dia bisa dipercaya"jawab kepala desa.
"Bah...soal apa itu?"lanjut Amani Ogol serta mereguk tuak dari gelasnya.
"Desa kita ini mendapat bantuan perbaikan  MCK dari pemerintah. Seseorang datang kepada saya dan menyerahkan sejumlah uang untuk membangunnya. Belum apa-apa, Tungko sudah beberapa kali meminta uang. Jadi aku mau mencari penggantinya."ujar kepala Desa.
"Bagaimana kalau saya Hampung? Kebetulan saya sudah terlalu capek martombak" ujar Amani Ogol serius.
"Sulit pekerjaan ini, bagaimana kau sanggup melaksanakannya"jawab Kepala Desa, walaupun dalam hatinya ingin memanfaatkan Amani Ogol, yang menurutnya bisa diatur.
"Kenapa Hampung ragu pada kemampuanku? Semua pekerjaan bisa saya lakukan"lanjutnya.
Dengan berbagai cara, akhirnya Amani Ogol diterima menjadi pelaksasana proyek MCK yang ditangani kepala desa. Berita gembira itu pun disampaikan kepada istrinya.
"Proyek MCK ? bah.....kecil kali kau dianggap kepala desa itu! Jangan terima itu ! Nanti kau bisa dipermainkan kepala desa!" debat istrinya kasar.
"Eh...Nai Ogol ! Sepantasnya kau berterima kasih, karena aku dapat pekerjaan"jawab Amani Ogol dengan lembut.
"Berterima kasih sama siapa? Apa kau kira upahmu darisitu bisa membeli telepisi? Kecillah itu!"jawab istrinya tidak mau mengalah.
Seminggu kemudian, Amani Ogol menyerahkan sejumlah uang sebagai upahnya.
"Ambil itu !!! Aku tidak mau terima ! Kau satu minggu bekerja siang malam, tetapi gajimu cuma sebesar itu. Ambil !!!!"teriak istrinya marah. Amani Ogol serba salah, ia mau ambil takut dilempar dengan "sonduk dasar" yang sedang dipegang istrinya.
Tiga hari kemudian, Amani Ogol disuruh Kepala Desa untuk membeli sepuluh sak semen.
"Minta bon pembeliannya, biar bisa dipertanggung jawabkan pada proyek MCK!"perintah kepala desa saat menyerahkan uang.
Amani Ogol bertanya-tanya dalam hatinya, untuk apa semen itu, sementara proyek MCK yang dikelola mereka sudah selesai, walaupun kondisinya amat memprihatinkan bahkan tidak layak dipakai.
 "Saya rasa uang ini ibarat gambo na pistik" ujarnya dalam hati. "Bah...cuma dia kebagian gambo" ia terusr bersungut-sungut. "Banyak kali sepuluh sak. Kalau saya beli tujuh sak, saya rasa Hampung tidak akan marah. Uang tiga sak itu bisa saya setor kepada istriku"ujarnya dalam hati.
Dengan perasaan yang agak bimbang, Amani Ogol menurunkan tujuh zak semen dari gerobak padati yang disewanya dari kota Kecamatan.
"Bah....kenapa tujuh zak kau beli Amani Ogol...aku perlu sepuluh zak!" ujar Kepala Desa dengan nada tinggi.
"Saya lihat si Tungko yang bekerja tiga hari dapat uang banyak, ibarat gambo na pistik. Saya sudah bekerja sama Hampung lebih tiga minggu, berarti gambonya tidak hanya pistik, saya sudah margambo-gambo. Berarti saya sudah harus menerima lebih banyak!"jawab Amani Ogol enteng. "Saya rasa....bapa Hampung tidak akan rugi, karena semen ini bagian dari MCK yang sudah rampung itu, ibarat pistik-pistik ni gambo"
"Bah...bah....mati aku! Kalau si Tungko bilang ia kena pistik-pistik, kau margulu-gulu gambo. Uang pembelian semen itu bukan hasil korupsi, Amani Ogol....! Tetapi uang dame-dame!"teriak kepala Hampung.
"Itulah...harus ada pistik sama aku gambonya"ujar Amani Ogol sambil berlalu. (Yulis.K)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar