Gambo
Amani Ogol kewalahan menghadapi istrinya yang sejak pagi
uring-uringan. Ia tidak menyangka, kalau wanita yang sangat dicintainya itu
mampu mengeluarkan kata-kata kasar untuk menyakiti hatinya.
"Sudah sepuluh tahun kita berumah tangga. Telepisi pun
tak ada di rumah ini! Suami macam apa kau !"teriak Nai Ogol sambil
melemparkan
"sonduk-dasar" sejenis
sendok yang digunakan pada saat memasak nasi. "Trak !!" sendok itu
pun patah.
"Bah...Nai Ogol ! Sudah capek si Ogol membuat sendok
itu, kau patahkan lagi"ujar Amani Ogol lembut.
"Biar !!! Sendok kampungan aja kau hitung-hitung! Dasar
suami tidak tahu cari uang ! Suami jelek!Siroa balang!"ujar Nai Ogol dan
mengambil kantongan sirih (hajut-hajut) dan memakannya. "Ceraikan saja
aku, sekarang juga. Panggil semua teman semargamu, saya tidak
perduli!"lanjutnya. Karena begitu emosinya, sekitar hidung dan mulutnya
memerah akibat ludah merah yang memercik saat mengomel.
"Begini...Nai Ogol......maklumilah......dulu keadaan
kita sekarang ini. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama, nasib
kita berubah menjadi baik"jawab Amani Ogol dengan hati-hati mendekati
istrinya. Ia takut tiba-tiba istrinya yang sedang berang itu menyemburkan
cairan merah dari mulutnya.
"Keluar...! Jangan sampai ...." teriak Nai Ogol
dan berupaya menjangkau kayu bakar yang disusun di "salean" (tempat
kayu yang sengaja dibuat diatas tungku agar kering).Namun sebelum Nai Ogol
berhasil mengambil kayu, Amani Ogol
langsung berlari terbirit-birit keluar
rumah. Dengan gontai Amani Ogol berjalan ke sebuah lapo tuak.
"Tuak amang boru!" Ia memesan segelas tuak.
Pandangannya tertuju ke arah kepala desa dan
Tungko Tokoh Pemuda di desa itu,
sedang berdebat soal uang.
"Masak aku cuma capeknya saja!"ujar salah seorang
dengan suara keras kepada kawannya.
"Ini kan
proyek desa kita ini, berarti kita bekerja untuk orang banyak! Kita sudah
melakukan bakti sosial!"jawab
lelaki
"Betul itu Amang Kades, tetapi jangan lupa ungkapan
Molo mangula, ingkon pistik do gambo tu iba. Artinya, kita sudah bekerja dengan
begitu banyak uang....... sudah wajarlah kita dapat sedikit uang lelah, kalau
tidak dapat komisi"jawab Tungko dengan nada marah.
"Itulah kau.......tidak dapat memahami keadaanku.
Tetapi...nih ! ala kadarnya saja. Tetapi hubungan kerja kita putus. Saya akan
cari orang untuk menggantikan kau!"ujar Kepala desa dan menyerahkan
sejumlah uang kepada Tungko.
Amani Ogol mendengar dengan seksama percakapan kedua orang
itu. Ia pura-pura tidak memperhatikan mereka, namun jantungnya berdebar melihat
sejumlah uang yang diterima Tungko. Tidak berapa lama, Tungko beranjak dari
tempat duduknya dan meninggalkan kepala desa.
"Uhuk !Uhuk !" Amani Ogol batuk-batuk kecil untuk
menarik perhatian kepala desa yang masih mengikuti Tungko dengan pandangannya.
"Bah...Amani Ogol....! Mendekatlah kemari, bawa tuakmu
kesini"ujar Kepala Desa.
"Disini saja aku, Hampung"jawab AmaniOgol
pura-pura.
"Alah......kesini sajalah....jangan takut! Nanti aku
yang bayar tuakmu"lanjut kepala desa. Akhirnya Amani Ogol mendekat ke
tempat duduk kepala desa.
"Serius kali kulihat Hampung"ujar Amani Ogol
dengan senyum dikulum. Ia berharap perbincangan sekitar proyek yang
disebut-sebut kepada Tungko itu dapat disampaikan kepadanya.
"Itulah si Tungko ini, baru bekerja lima hari, sudahmenuntut uang. Bagaimana dia
bisa dipercaya"jawab kepala desa.
"Bah...soal apa itu?"lanjut Amani Ogol serta
mereguk tuak dari gelasnya.
"Desa kita ini mendapat bantuan perbaikan MCK dari pemerintah. Seseorang datang kepada
saya dan menyerahkan sejumlah uang untuk membangunnya. Belum apa-apa, Tungko
sudah beberapa kali meminta uang. Jadi aku mau mencari penggantinya."ujar
kepala Desa.
"Bagaimana kalau saya Hampung? Kebetulan saya sudah
terlalu capek martombak" ujar Amani Ogol serius.
"Sulit pekerjaan ini, bagaimana kau sanggup
melaksanakannya"jawab Kepala Desa, walaupun dalam hatinya ingin
memanfaatkan Amani Ogol, yang menurutnya bisa diatur.
"Kenapa Hampung ragu pada kemampuanku? Semua pekerjaan
bisa saya lakukan"lanjutnya.
Dengan berbagai cara, akhirnya Amani Ogol diterima menjadi
pelaksasana proyek MCK yang ditangani kepala desa. Berita gembira itu pun
disampaikan kepada istrinya.
"Proyek MCK ? bah.....kecil kali kau dianggap kepala
desa itu! Jangan terima itu ! Nanti kau bisa dipermainkan kepala desa!"
debat istrinya kasar.
"Eh...Nai Ogol ! Sepantasnya kau berterima kasih,
karena aku dapat pekerjaan"jawab Amani Ogol dengan lembut.
"Berterima kasih sama siapa? Apa kau kira upahmu
darisitu bisa membeli telepisi? Kecillah itu!"jawab istrinya tidak mau
mengalah.
Seminggu kemudian, Amani Ogol menyerahkan sejumlah uang
sebagai upahnya.
"Ambil itu !!! Aku tidak mau terima ! Kau satu minggu
bekerja siang malam, tetapi gajimu cuma sebesar itu. Ambil !!!!"teriak
istrinya marah. Amani Ogol serba salah, ia mau ambil takut dilempar dengan
"sonduk dasar" yang sedang dipegang istrinya.
Tiga hari kemudian, Amani Ogol disuruh Kepala Desa untuk
membeli sepuluh sak semen.
"Minta bon pembeliannya, biar bisa dipertanggung
jawabkan pada proyek MCK!"perintah kepala desa saat menyerahkan uang.
Amani Ogol bertanya-tanya dalam hatinya, untuk apa semen
itu, sementara proyek MCK yang dikelola mereka sudah selesai, walaupun
kondisinya amat memprihatinkan bahkan tidak layak dipakai.
"Saya rasa uang
ini ibarat gambo na pistik" ujarnya dalam hati. "Bah...cuma dia
kebagian gambo" ia terusr bersungut-sungut. "Banyak kali sepuluh sak.
Kalau saya beli tujuh sak, saya rasa Hampung tidak akan marah. Uang tiga sak
itu bisa saya setor kepada istriku"ujarnya dalam hati.
Dengan perasaan yang agak bimbang, Amani Ogol menurunkan
tujuh zak semen dari gerobak padati yang disewanya dari kota Kecamatan.
"Bah....kenapa tujuh zak kau beli Amani Ogol...aku
perlu sepuluh zak!" ujar Kepala Desa dengan nada tinggi.
"Saya lihat si Tungko yang bekerja tiga hari dapat uang
banyak, ibarat gambo na pistik. Saya sudah bekerja sama Hampung lebih tiga
minggu, berarti gambonya tidak hanya pistik, saya sudah margambo-gambo. Berarti
saya sudah harus menerima lebih banyak!"jawab Amani Ogol enteng.
"Saya rasa....bapa Hampung tidak akan rugi, karena semen ini bagian dari
MCK yang sudah rampung itu, ibarat pistik-pistik ni gambo"
"Bah...bah....mati aku! Kalau si Tungko bilang ia kena
pistik-pistik, kau margulu-gulu gambo. Uang pembelian semen itu bukan hasil
korupsi, Amani Ogol....! Tetapi uang dame-dame!"teriak kepala Hampung.
"Itulah...harus ada pistik sama aku gambonya"ujar
Amani Ogol sambil berlalu. (Yulis.K)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar