Sopir Taxi
Oleh
Yulis
Togu Manorang menghirup kopi panas yang disuguhkan istrinya
Murni. Ia merasa nyaman setelah tidur seharian. Rasa penat menarik taxi malam
hilang sudah.
Tidak seperti biasanya, selain kopi, Murni juga menyediakan
Onde-onde kue kegemarannya.
"Mak Butet, enak kali onde-onde ini"ujarnya sambil
tersenyum.Murni tidak menjawab, tetapi rasa sayang yang berlebihan muncul
dihatinya. Ia melihat sosok Togu Manorang lain dari biasanya.
"Itukan kue kesukaanmu. Tadi aku beli di Sambu"
jawab istrinya tersenyum dan duduk disamping suaminya. Kedua anaknya Marsillam
dan Putri Ayu naik ke pangkuannya. Seakan ada rasa rindu yang mendalam.
"Pak...nanti bawa mobilan, ya" pinta Marsillam
manja, tangannya kirinya mengelus jenggot yang baru tumbuh. "Pa...kalau
tua jangan pakai jenggot, ya...Ilam takut lihat jenggot"lanjutnya dan
mencoba mencabut jenggot bapaknya.
"Aduh..sakit, nak"ujar Togu sambil tertawa. Murni
juga terkekeh-kekeh melihat tingkah Togu yang merengek.
"Kalau Ayu...bawakan boneka, ya Pa"Putri Ayu
menyeletuk.
"Anak perempuan tidak boleh manja, kamu harus dikirim
ke Oppung di Lumban Suhi-suhi Samosir agar kamu di ajar martonun"sahut
Murni. Putri nampak merajuk, ia memukulkan tangan mungilnya ke dada Togu.
"Ngak mau, bapa harus beli boneka"ujar gadis lima
tahun itu merengek. "Kalau tidak, Bapak ngak boleh pulang ke
rumah"ujar lagi.
"Hush ..! Pantang !"ujar Murni dan mencubit
perlahan paha putrinya.
"Pak....hati-hati pak....tadi malam aku mimpi ketemu
Amang"ujar Murni sambil memperbaiki kerah dinas sopir Taxi yang dikenakan
Togu.
"Ah...mimpi liar itu"ujar Togu karena ayahnya
sudah meninggal tiga tahun silam.
"Betul Pa......dalam mimpi itu, ada tiga orang yang
mengantar amang ke rumah ini. Dan mereka mengajakmu pergi"lanjut Murni.
Togu sejenak diam, tetapi ia mencoba menghilangkan
kegelisahan di hatinya. Ia tidak mau menunjukkan kegelisahan dihadapan istri
dan anak-anaknya.
"Kamu jangan terpengaruh mimpi, yang penting kamu
berdoa agar tidak terjadi apa-apa padaku"ujar Togu dan menyerahkan kedua
anaknya ke pangkuan Murni. "Mana tasku ? tehnya sudah ada di dalam?"
ujar Togu. Murni menurunkan kedua anaknya, ia mengambil tas kecil yang biasa
dibawa suaminya kerja mengemudikan taxi.
Murni dan kedua anaknya mengantarkan Togu sampai di pintu
rumah kontrakannya di Tembung.
"Dada..papa..."teriak kedua anaknya. Togu
melambaikan tangan dan melanjutkan perjalanannya. Ia memanggil beca. Sebelum
berangkat, ia melambaikan tangan kepada istri dan anak-anaknya.
Murni dan kedua anaknya kembali masuk ke dalam rumah. Ia
mengunci pintu dan masuk ke dalam kamar.
"Sini..kita berdoa agar papa kembali ke rumah membawa
mobilan dan boneka"ujar Murni dan melipat kedua tangannya berdoa.
Togu mengambil tanda pengenal sopir di kantor bagian
operasi. Kemudian mengambil kunci dan surat-surat mobil.
"Mobilnya sudah diservice, bung"ujar staf bagian
operasi dengan tersenyum. Togu mengeluarkan dompetnya. Diambilnya dua lembar
uang pecahan seribu.
"Terima kasih, Jeck!" ujarnya sambil menepuk bahu
lelaki itu. Kemudian ia mengambil Taxi yang biasa ia bawa. Segala sesuatu ia
periksa, siapa tahu sopir yang bertugas siang lengah sehingga ada peralatan
yang rusak. Ternyata semuanya baik.
"Selamat jalan bung Kalong!" ujar ceker di pintu
pool setelah memeriksa kondisi mobil dan membubuhkan tanda oke di surat
jalannya.
Togu meluncurkan taxinya dengan perlahan. Matanya
mencari-cari calon penumpang. Kemudian ia mampir di salah satu toko swalayan.
Ia mengingat permintaan Marsillam dan Putri Ayu.
Dipilihnya sebuah mobilan yang mirip taxinya dan sebuah
boneka dakocan.
"Biar kamu berdua senang" ujarnya perlahan setelah
membayar mainan itu.
Menjelang tengah malam, Togu kembali dari Binjai. Ia merasa
senang, karena setorannya sudah terpenuhi. Tinggal kelebihan untuk ia bawa ke
rumah. Ia meluncur di Jalan Gatot Subroto dan kemudian meluncur ke arah Jln.
Krakatau berputar lagi ke arah Pulo Brayan.
"Nah itu ada sewa"ujarnya dalam hati. Ia
menghentikan taxinya, seorang gadis tanpa basi-basi langsung masuk di pintu
belakang.
"Bang...ke Tanjung Morawa"ujar gadis itu setelah
duduk di bangku belakang. Togu menghidupkan argo meter (alat untuk menentukan
ongkos sesuai jarak yang ditempuh). Dengan cekatan taksi dilarikan menyusur
jalan yang mulai senggang.
"Bang sebentar, aku mau menjemput teman"ujar gadis
itu setelah tiba di depan Taman Makam Pahlawan Jl. Sisingamaraja.
"Dimana dek ?" ujar Togu, tiba-tiba perasannya
tidak enak. Ia melihat beberapa Waria (banci) berkelompok-kelompok di bawah
pohon yang rindang, yang sengaja dipelihara Pemko Medan di depan makam pahlawan
itu.
"Sebentar ya, aku mau panggil"ujarnya dan membuka
kaca mobil. "Tor ! ayo......." teriak gadis itu. Kemudian dua orang
lelaki datang berlari ke arah taxi. Satu orang duduk di depan, satu orang lagi
duduk percis di belakang Togu. "Jalan, bang" ujar gadis itu.
Setelah kedua lelaki itu masuk, tidak ada percakapan.
Perasaan Togu mulai gelisah. Sesekali ia melirik ke kaca spion dan kepada
penumpang yang duduk di sampingnya. Ia melihat sesuatu muncul dari balik baju
penumpang disebelahnya.
"Kita langsung saja ke Siantar"ujar lelaki di
belakangnya. Togu berupaya meminggirkan taxinya. "Tidak bisa ke Siantar,
bung" ujar Togu. Tetapi dengan tiba-tiba penumpang yang duduk di
sebelahnya langsung mengeluarkan sebilah pisau.
"Lanjut !!"ujarnya dengan keras. Togu mulai merasa
takut. Dipandangnya mobilan dan boneka yang baru dibelinya. Terbayang wajah
anak dan istrinya.
"Tuhan...lindungi aku"ujarnya dalam hati.
"Kalau kami bilang ke Siantar, teruskan ke Siantar
!" ujar lelaki dibelakangnya sambil memukul kepala Togu dengan kepalan
tangannya.
Togu sadar, ia sedang ditodong kawanan penjahat.
"Bang..aku tidak punya uang....anakku masih
kecil-kecil"ujar Togu dengan suara gemetar. Tanpa ia duga, lelaki yang
disampingnya menusukkan pisau ditangannya ke paha Togu.
"Aduh....."ujar Togu kesakitan ia meluncurkan
taxinya.
"Tidak usah sampai Siantar, lewat Tebing kita habiskan
saja dia"ujar gadis yang pertama kali masuk itu. Kemudian ia mulai
mengeluarkan semua isi kantong Togu. Ia melihat foto Marsillam dan Putri Ayu.
"Manis juga anakmu ini...sayang..mereka tidak dapat bertemu lagi dengan
kau"ujar gadis itu sambil merobek foto kedua anak itu dan melemparkan
sobekannya ke muka Togu.
Namun sebuah cara ia temukan. "Kalau Tuhan menghendaki
aku hidup, pasti aku hidup"ujar Togu yang mulai gemetaran.
Dipersimpangan Beo Tebing Tinggi dua orang polisi Sabhara
merasa curiga, melihat sebuah taxi melaju kencang tanpa lampu. Kedua polisi itu
langsung tanggap, pasti ada suatu dalam taxi itu. Mereka mengejar dan tanpa
lampu juga. Togu melihat dua polisi telah mengejar taksinya, ia kembali
menyalakan lampu yang sengaja dia matikan. Polisi itu pun semakin mengerti,
bahwa sopir taxi meberi tanda agar dapat ditelusuri.
"Matikan lampumu !" teriak lelaki yang duduk di
sebelahnya sambil menusukkan lagi pisau ditangannya.
"Aduh...!"ujar Togu sambil mengerem tiba-tiba
takxinya dan dengan sigap membuka pintu kemudian keluar dari dalam.
"Jangan bergerak !!" teriak kedua polisi itu dan
mengancungkan pistol ke arah penumpang taksi. Tidak lama kemudian sebuah mobil
patroli yang sudah dihubungi polisi tadi, tiba dengan enam orang personel.
Togu yang luka dipaha, tidak dapat lagi mengemudikan
taksinya. Polisi mengambil alih kemudi.
Setelah mendengar keterangan Togu ketiga penjahat itu
diborgol dan dibawa ke Polres Tebing Tinggi. Togu kemudian diantar ke rumahnya
dengan mobilan dan boneka yang masih utuh.
"Untung aku beli, hingga doa Putri terkabul"ujar
Togu sambil mencium gadis kecilnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar