Kamis, 10 September 2009

Cerpen


Sopir Taxi
Oleh
Yulis
Togu Manorang menghirup kopi panas yang disuguhkan istrinya Murni. Ia merasa nyaman setelah tidur seharian. Rasa penat menarik taxi malam hilang sudah.
Tidak seperti biasanya, selain kopi, Murni juga menyediakan Onde-onde kue kegemarannya.
"Mak Butet, enak kali onde-onde ini"ujarnya sambil tersenyum.Murni tidak menjawab, tetapi rasa sayang yang berlebihan muncul dihatinya. Ia melihat sosok Togu Manorang lain dari biasanya.
"Itukan kue kesukaanmu. Tadi aku beli di Sambu" jawab istrinya tersenyum dan duduk disamping suaminya. Kedua anaknya Marsillam dan Putri Ayu naik ke pangkuannya. Seakan ada rasa rindu yang mendalam.
"Pak...nanti bawa mobilan, ya" pinta Marsillam manja, tangannya kirinya mengelus jenggot yang baru tumbuh. "Pa...kalau tua jangan pakai jenggot, ya...Ilam takut lihat jenggot"lanjutnya dan mencoba mencabut jenggot bapaknya.
"Aduh..sakit, nak"ujar Togu sambil tertawa. Murni juga terkekeh-kekeh melihat tingkah Togu yang merengek.
"Kalau Ayu...bawakan boneka, ya Pa"Putri Ayu menyeletuk.
"Anak perempuan tidak boleh manja, kamu harus dikirim ke Oppung di Lumban Suhi-suhi Samosir agar kamu di ajar martonun"sahut Murni. Putri nampak merajuk, ia memukulkan tangan mungilnya ke dada Togu.
"Ngak mau, bapa harus beli boneka"ujar gadis lima tahun itu merengek. "Kalau tidak, Bapak ngak boleh pulang ke rumah"ujar lagi.
"Hush ..! Pantang !"ujar Murni dan mencubit perlahan paha putrinya.
"Pak....hati-hati pak....tadi malam aku mimpi ketemu Amang"ujar Murni sambil memperbaiki kerah dinas sopir Taxi yang dikenakan Togu.
"Ah...mimpi liar itu"ujar Togu karena ayahnya sudah meninggal tiga tahun silam.
"Betul Pa......dalam mimpi itu, ada tiga orang yang mengantar amang ke rumah ini. Dan mereka mengajakmu pergi"lanjut Murni.
Togu sejenak diam, tetapi ia mencoba menghilangkan kegelisahan di hatinya. Ia tidak mau menunjukkan kegelisahan dihadapan istri dan anak-anaknya.
"Kamu jangan terpengaruh mimpi, yang penting kamu berdoa agar tidak terjadi apa-apa padaku"ujar Togu dan menyerahkan kedua anaknya ke pangkuan Murni. "Mana tasku ? tehnya sudah ada di dalam?" ujar Togu. Murni menurunkan kedua anaknya, ia mengambil tas kecil yang biasa dibawa suaminya kerja mengemudikan taxi.
Murni dan kedua anaknya mengantarkan Togu sampai di pintu rumah kontrakannya di Tembung.
"Dada..papa..."teriak kedua anaknya. Togu melambaikan tangan dan melanjutkan perjalanannya. Ia memanggil beca. Sebelum berangkat, ia melambaikan tangan kepada istri dan anak-anaknya.
Murni dan kedua anaknya kembali masuk ke dalam rumah. Ia mengunci pintu dan masuk ke dalam kamar.
"Sini..kita berdoa agar papa kembali ke rumah membawa mobilan dan boneka"ujar Murni dan melipat kedua tangannya berdoa.
Togu mengambil tanda pengenal sopir di kantor bagian operasi. Kemudian mengambil kunci dan surat-surat mobil.
"Mobilnya sudah diservice, bung"ujar staf bagian operasi dengan tersenyum. Togu mengeluarkan dompetnya. Diambilnya dua lembar uang pecahan seribu.
"Terima kasih, Jeck!" ujarnya sambil menepuk bahu lelaki itu. Kemudian ia mengambil Taxi yang biasa ia bawa. Segala sesuatu ia periksa, siapa tahu sopir yang bertugas siang lengah sehingga ada peralatan yang rusak. Ternyata semuanya baik.
"Selamat jalan bung Kalong!" ujar ceker di pintu pool setelah memeriksa kondisi mobil dan membubuhkan tanda oke di surat jalannya.
Togu meluncurkan taxinya dengan perlahan. Matanya mencari-cari calon penumpang. Kemudian ia mampir di salah satu toko swalayan. Ia mengingat permintaan Marsillam dan Putri Ayu.
Dipilihnya sebuah mobilan yang mirip taxinya dan sebuah boneka dakocan.
"Biar kamu berdua senang" ujarnya perlahan setelah membayar mainan itu.
Menjelang tengah malam, Togu kembali dari Binjai. Ia merasa senang, karena setorannya sudah terpenuhi. Tinggal kelebihan untuk ia bawa ke rumah. Ia meluncur di Jalan Gatot Subroto dan kemudian meluncur ke arah Jln. Krakatau berputar lagi ke arah Pulo Brayan.
"Nah itu ada sewa"ujarnya dalam hati. Ia menghentikan taxinya, seorang gadis tanpa basi-basi langsung masuk di pintu belakang.
"Bang...ke Tanjung Morawa"ujar gadis itu setelah duduk di bangku belakang. Togu menghidupkan argo meter (alat untuk menentukan ongkos sesuai jarak yang ditempuh). Dengan cekatan taksi dilarikan menyusur jalan yang mulai senggang.
"Bang sebentar, aku mau menjemput teman"ujar gadis itu setelah tiba di depan Taman Makam Pahlawan Jl. Sisingamaraja.
"Dimana dek ?" ujar Togu, tiba-tiba perasannya tidak enak. Ia melihat beberapa Waria (banci) berkelompok-kelompok di bawah pohon yang rindang, yang sengaja dipelihara Pemko Medan di depan makam pahlawan itu.
"Sebentar ya, aku mau panggil"ujarnya dan membuka kaca mobil. "Tor ! ayo......." teriak gadis itu. Kemudian dua orang lelaki datang berlari ke arah taxi. Satu orang duduk di depan, satu orang lagi duduk percis di belakang Togu. "Jalan, bang" ujar gadis itu.
Setelah kedua lelaki itu masuk, tidak ada percakapan. Perasaan Togu mulai gelisah. Sesekali ia melirik ke kaca spion dan kepada penumpang yang duduk di sampingnya. Ia melihat sesuatu muncul dari balik baju penumpang disebelahnya.
"Kita langsung saja ke Siantar"ujar lelaki di belakangnya. Togu berupaya meminggirkan taxinya. "Tidak bisa ke Siantar, bung" ujar Togu. Tetapi dengan tiba-tiba penumpang yang duduk di sebelahnya langsung mengeluarkan sebilah pisau.
"Lanjut !!"ujarnya dengan keras. Togu mulai merasa takut. Dipandangnya mobilan dan boneka yang baru dibelinya. Terbayang wajah anak dan istrinya.
"Tuhan...lindungi aku"ujarnya dalam hati.
"Kalau kami bilang ke Siantar, teruskan ke Siantar !" ujar lelaki dibelakangnya sambil memukul kepala Togu dengan kepalan tangannya.
Togu sadar, ia sedang ditodong kawanan penjahat.
"Bang..aku tidak punya uang....anakku masih kecil-kecil"ujar Togu dengan suara gemetar. Tanpa ia duga, lelaki yang disampingnya menusukkan pisau ditangannya ke paha Togu.
"Aduh....."ujar Togu kesakitan ia meluncurkan taxinya.
"Tidak usah sampai Siantar, lewat Tebing kita habiskan saja dia"ujar gadis yang pertama kali masuk itu. Kemudian ia mulai mengeluarkan semua isi kantong Togu. Ia melihat foto Marsillam dan Putri Ayu. "Manis juga anakmu ini...sayang..mereka tidak dapat bertemu lagi dengan kau"ujar gadis itu sambil merobek foto kedua anak itu dan melemparkan sobekannya ke muka Togu.
Namun sebuah cara ia temukan. "Kalau Tuhan menghendaki aku hidup, pasti aku hidup"ujar Togu yang mulai gemetaran.
Dipersimpangan Beo Tebing Tinggi dua orang polisi Sabhara merasa curiga, melihat sebuah taxi melaju kencang tanpa lampu. Kedua polisi itu langsung tanggap, pasti ada suatu dalam taxi itu. Mereka mengejar dan tanpa lampu juga. Togu melihat dua polisi telah mengejar taksinya, ia kembali menyalakan lampu yang sengaja dia matikan. Polisi itu pun semakin mengerti, bahwa sopir taxi meberi tanda agar dapat ditelusuri.
"Matikan lampumu !" teriak lelaki yang duduk di sebelahnya sambil menusukkan lagi pisau ditangannya.
"Aduh...!"ujar Togu sambil mengerem tiba-tiba takxinya dan dengan sigap membuka pintu kemudian keluar dari dalam.
"Jangan bergerak !!" teriak kedua polisi itu dan mengancungkan pistol ke arah penumpang taksi. Tidak lama kemudian sebuah mobil patroli yang sudah dihubungi polisi tadi, tiba dengan enam orang personel.
Togu yang luka dipaha, tidak dapat lagi mengemudikan taksinya. Polisi mengambil alih kemudi.
Setelah mendengar keterangan Togu ketiga penjahat itu diborgol dan dibawa ke Polres Tebing Tinggi. Togu kemudian diantar ke rumahnya dengan mobilan dan boneka yang masih utuh.
"Untung aku beli, hingga doa Putri terkabul"ujar Togu sambil mencium gadis kecilnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar