Selasa, 15 September 2009

Rapat umum


Bahas Upaya Hentikan Perambahan Hutan Kemenyan
Warga Desa Pandumaan dan Sipituhuta Selenggarakan Rapat Umum
Doloksanggul, Bonpas
Kesatuan yang masih terbangun dengan baik, dan semangat perjuangan masih berkobar-kobar dalam diri masing-masing warga. Ini terlihat dari antusianya warga Pandumaan dan Sipihuta dalam menghadiri rapat umum, meskipun gerimis mengguyur, warga tetap saya bertahan dihalaman SD Inpres Pandumaan.
Ada yang duduk ditembok taman, ada yang beralaskan papan selembar, dan ada yang berdiri mulai dari awal hingga kegiatan berakhir. Ibu-ibu yang hadir juga ada yang sambil menggendong bayi sambil memegang payung. Tidak satu orangpun yang menggerutu, semuanya tersenyum. Namun, dari raut wajah masing-masing menggambarkan adanya pengharapan untuk meraih kemenangan dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan.
Semua yang hadir saling memberikan ide-ide sehingga semua topik dibahas dengan alot. Pembahasan mulai dari situasi terkini hingga persiapan-persiapan pemberangkatan utusan warga yang akan melakukan aksi di medan, dan upaya-upaya yang dapat dilakukan berikutnya.
Meskipun berbagai upaya sudah dilakukan untuk menghentikan kegiatan PT TPL dilokasi, pada kenyataannya TPL tetap secara melakukan kegiatan secara diam-diam dilokasi tombak sipiturura. Disaat rakyat menyambut kedatangan anggota Komnas HAM, 30 Agustus 2009 yang lalu, disaatu itu pula PT TPL asyik melakukan kegiatan di TPL. Pada tanggal 8 September 2009 yang lalu, 3 warga Sipitihuta mencoba untuk menangkap langsung para pekerja tersebut. Akan tetapi, niat itu pun tidak terjadi karena jumlah pekerja PT TPL lebih banyak dari warga, yakni 8 orang. Namun kegiatan TPL dapat dihentikan hingga saat ini.
Untuk mengantisipasi pekerja PT TPL tetap melakukan kegiatan dilokasi, warga menyepakati untuk tetap menjaga dan mengawasi lokasi. Dan diusahakan untuk menangkap pekerja PT TPL yang melakukan kegiatan dilokasi. Bagi warga yang akan melakukan penangkapan dan menahan barang-barang pekerja TPL, harus dibekali dengan form surat pernyataan penyerahan barang yang harus diisi dan ditandatangani oleh pekerja TPL, lengkap dengan materai. Jika ada yang tertangkap, warga langsung membawa dan membuat pengaduan resmi ke Polres Humbahas.
Berikutnya, warga juga akan mengutus 6 orang melobby Bupati Humbahas untuk mendapatkan pengakuan dari Bupati Humbahas terkait tombak haminjon yang telah
dikuasai dan dikelola secara turun-temurun oleh masyarakat Pandumaan dan Sipituhuta. Dan jika upaya ini tidak berhasil, warga merencanakan memintanya secara demonstrasi semua warga.
Sedangkan untuk mengikuti aksi bersama solidaritas rakyat untuk petani dan kemenyan yang akan diadakan tanggal 17 September 2009 di medan, warga mengutus sebanyak 15 orang. Dan untuk mengikuti aksi tanggal 24 September 2009 dalam rangka memperingati hari agraria nasional bersama Serikat Tani Sumatera Utara di Medan, warga juga mengutus sebenyak 5 orang.
Dalam aksi bersama solidaritas rakyat untuk petani dan kemenyan yang akan diselengarakan pada 17 September 2009 di Medan, warga merancang dan sepakat untuk menggunakan pakaian adat, dan membawa perlengkapan dan alat-alat yang digunakan seorang partombak haminjon (sebutan untuk petani kemenyan). Selain itu warga juga akan membawa kemenyan untuk dibakar pada saat aksi, dan membawa bibit kemenyan yang direncanakan ditanam dikantor DPRDSU, serta membawa limbah PT TPL yang dibuang ke lokasi tombak haminjon (hutan kemenyan) warga Pandumaan dan Sipituhuta yang akan diberikan kepada DPRDSU dan Gubernur Sumatera Utara.
Untuk biaya perjuangan, warga berupaya dengan swadaya. Dalam pertemuan ini, warga menyepakati untuk menambah iuran sebesar 20.000 per rumah tangga. Sebelumnya, warga juga sudah mengumpulkan iuran sebesar 30.000 per rumah tangga.
Sungguh perjuangan yang sangat mengharukan. Pengorbanan warga dalam memperjuangkan hak atas tombak haminjon sudah selayaknya mendapat penghargaan dan dukungan yang begitu luas. Jangan kita biarkan penindasan terus terjadi di negeri ini. (Guntur Simamora )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar