Bahas Upaya Hentikan Perambahan Hutan Kemenyan
Warga Desa Pandumaan dan Sipituhuta
Selenggarakan Rapat Umum
Doloksanggul, Bonpas
Kesatuan yang masih terbangun dengan baik, dan semangat
perjuangan masih berkobar-kobar dalam diri masing-masing warga. Ini terlihat
dari antusianya warga Pandumaan dan Sipihuta dalam menghadiri rapat umum,
meskipun gerimis mengguyur, warga tetap saya bertahan dihalaman SD Inpres
Pandumaan.
Semua yang hadir saling memberikan ide-ide sehingga semua
topik dibahas dengan alot. Pembahasan mulai dari situasi terkini hingga
persiapan-persiapan pemberangkatan utusan warga yang akan melakukan aksi di medan , dan upaya-upaya
yang dapat dilakukan berikutnya.
Meskipun berbagai upaya sudah dilakukan untuk menghentikan
kegiatan PT TPL dilokasi, pada kenyataannya TPL tetap secara melakukan kegiatan
secara diam-diam dilokasi tombak sipiturura. Disaat rakyat menyambut kedatangan
anggota Komnas HAM, 30 Agustus 2009 yang lalu, disaatu itu pula PT TPL asyik
melakukan kegiatan di TPL. Pada tanggal 8 September 2009 yang lalu, 3 warga
Sipitihuta mencoba untuk menangkap langsung para pekerja tersebut. Akan tetapi,
niat itu pun tidak terjadi karena jumlah pekerja PT TPL lebih banyak dari
warga, yakni 8 orang. Namun kegiatan TPL dapat dihentikan hingga saat ini.
Untuk mengantisipasi pekerja PT TPL tetap melakukan kegiatan
dilokasi, warga menyepakati untuk tetap menjaga dan mengawasi lokasi. Dan
diusahakan untuk menangkap pekerja PT TPL yang melakukan kegiatan dilokasi.
Bagi warga yang akan melakukan penangkapan dan menahan barang-barang pekerja
TPL, harus dibekali dengan form surat
pernyataan penyerahan barang yang harus diisi dan ditandatangani oleh pekerja
TPL, lengkap dengan materai. Jika ada yang tertangkap, warga langsung membawa
dan membuat pengaduan resmi ke Polres Humbahas.
Berikutnya, warga juga akan mengutus 6 orang melobby Bupati
Humbahas untuk mendapatkan pengakuan dari Bupati Humbahas terkait tombak
haminjon yang telah
dikuasai dan dikelola secara turun-temurun oleh masyarakat
Pandumaan dan Sipituhuta. Dan jika upaya ini tidak berhasil, warga merencanakan
memintanya secara demonstrasi semua warga.
Sedangkan untuk mengikuti aksi bersama solidaritas rakyat
untuk petani dan kemenyan yang akan diadakan tanggal 17 September 2009 di medan , warga mengutus
sebanyak 15 orang. Dan untuk mengikuti aksi tanggal 24 September 2009 dalam
rangka memperingati hari agraria nasional bersama Serikat Tani Sumatera Utara
di Medan, warga juga mengutus sebenyak 5 orang.
Dalam aksi bersama solidaritas rakyat untuk petani dan
kemenyan yang akan diselengarakan pada 17 September 2009 di Medan, warga
merancang dan sepakat untuk menggunakan pakaian adat, dan membawa perlengkapan
dan alat-alat yang digunakan seorang partombak haminjon (sebutan untuk petani kemenyan).
Selain itu warga juga akan membawa kemenyan untuk dibakar pada saat aksi, dan
membawa bibit kemenyan yang direncanakan ditanam dikantor DPRDSU, serta membawa
limbah PT TPL yang dibuang ke lokasi tombak haminjon (hutan kemenyan) warga
Pandumaan dan Sipituhuta yang akan diberikan kepada DPRDSU dan Gubernur
Sumatera Utara.
Untuk biaya perjuangan, warga berupaya dengan swadaya. Dalam
pertemuan ini, warga menyepakati untuk menambah iuran sebesar 20.000 per rumah
tangga. Sebelumnya, warga juga sudah mengumpulkan iuran sebesar 30.000 per
rumah tangga.
Sungguh perjuangan yang sangat mengharukan. Pengorbanan
warga dalam memperjuangkan hak atas tombak haminjon sudah selayaknya mendapat
penghargaan dan dukungan yang begitu luas. Jangan kita biarkan penindasan terus
terjadi di negeri ini. (Guntur
Simamora )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar