SI JABIR 412
Oppung : Hebat kali tetangga kita
itu bah…! Masya Kudanya makan Raja pada hal begitu banyak para pengawalnya.
Jabir : Nampak kalilah Oppung ini
sudah mulai bau tanah, itu saja tidak mengerti maksudnya. Maksudnya disitu
adalah permainan catur Oppung…….!
Oppung : Pussikalayangmu ! Memang
yang ada di Otakmu hanya percaturan saja, kalah sekarang, ulang lagi besok. Tak
ada henti hentinya.
Jabir : Bah, apa rupanya keberatanmu
sehingga percaturanku menjadi Oppung campuri ? Sedangkan Pilkadapun dapat
diulang apalagi main catur.
Oppung : Pembissaraamu memang
selalu marambalangan, masya percaturan di Lapo kau hubung hubungkan dengan
percaturan Politik ? Nampak kali kau ini par Politik na sega sega.
Jabir : Aku tidak perduli. Menang
atau kalah, yang penting Hepeng na ma. Dan aku tidak condong kesana atau
kemari.
Oppung : Hah…hah…hah itulah yang
disebut dalam bahasa batak tulen Baor baor sogos alias tidak memiliki pendirian
dan si tompang na monang.
Jabir : Itukan salah satu bagian
dari monsak humaliang bogas yang Oppung ajarkan sama aku selama ini. Kalau
tidak, aku mana bisa hidup seperti sekarang ini.
Oppung : Betul juga ya ! Buktinya
abangmu sihahaan itu bisa kau usulkan menjadi sekretaris, walaupun aku tau
bahwa selama pilkada dia adalah pendukung yang lain.
Jabir : Makanya Oppung ! Tapi
terkadang jadi taroktokku yang menjadi lawanku. Soalnya orang lain yang
menabur, sementara jadi kita yang menuai hasilnya. Tapi omong omong darimana
Oppung tau bahwa abangku sihahaan itu bukan mendukung yang menang ?
Oppung : Bah…..! Tua tua begini
naluri kewartawananku kan
masih menebar kemana mana. Bahkan sewaktu itupun dengan terang terangan dia
berani menawarkan sama teman teman sekerjanya sepuluh juta rupiah, asalkan mau
memilih calon yang di unggulkan.
Jabir : Sudahlah Oppung, nanti
ketahuan belangku bisa rusak semuanya bisa bisa akupun di non aktipkan.
Oppung : Makanya jangan massam
massam. Setelah abangmu sihahaan itu jadi duduk di kursi empuk, bilang sama dia
Jangan lupa kacang akan kulitnya. Nati bisa Ku kuliti dia. Tak tau dia, aku ini
guru monsak dari Pusuk Buhit…..he…he…he….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar