Kamis, 10 September 2009

Sijabir


SI JABIR 412
Oppung : Hebat kali tetangga kita itu bah…! Masya Kudanya makan Raja pada hal begitu banyak para pengawalnya.
Jabir : Nampak kalilah Oppung ini sudah mulai bau tanah, itu saja tidak mengerti maksudnya. Maksudnya disitu adalah permainan catur Oppung…….!
Oppung : Pussikalayangmu ! Memang yang ada di Otakmu hanya percaturan saja, kalah sekarang, ulang lagi besok. Tak ada henti hentinya.
Jabir : Bah, apa rupanya keberatanmu sehingga percaturanku menjadi Oppung campuri ? Sedangkan Pilkadapun dapat diulang apalagi main catur.
Oppung : Pembissaraamu memang selalu marambalangan, masya percaturan di Lapo kau hubung hubungkan dengan percaturan Politik ? Nampak kali kau ini par Politik na sega sega.
Jabir : Aku tidak perduli. Menang atau kalah, yang penting Hepeng na ma. Dan aku tidak condong kesana atau kemari.
Oppung : Hah…hah…hah itulah yang disebut dalam bahasa batak tulen Baor baor sogos alias tidak memiliki pendirian dan si tompang na monang.
Jabir : Itukan salah satu bagian dari monsak humaliang bogas yang Oppung ajarkan sama aku selama ini. Kalau tidak, aku mana bisa hidup seperti sekarang ini.
Oppung : Betul juga ya ! Buktinya abangmu sihahaan itu bisa kau usulkan menjadi sekretaris, walaupun aku tau bahwa selama pilkada dia adalah pendukung yang lain.
Jabir : Makanya Oppung ! Tapi terkadang jadi taroktokku yang menjadi lawanku. Soalnya orang lain yang menabur, sementara jadi kita yang menuai hasilnya. Tapi omong omong darimana Oppung tau bahwa abangku sihahaan itu bukan mendukung yang menang ?
Oppung : Bah…..! Tua tua begini naluri kewartawananku kan masih menebar kemana mana. Bahkan sewaktu itupun dengan terang terangan dia berani menawarkan sama teman teman sekerjanya sepuluh juta rupiah, asalkan mau memilih calon yang di unggulkan.
Jabir : Sudahlah Oppung, nanti ketahuan belangku bisa rusak semuanya bisa bisa akupun di non aktipkan.
Oppung : Makanya jangan massam massam. Setelah abangmu sihahaan itu jadi duduk di kursi empuk, bilang sama dia Jangan lupa kacang akan kulitnya. Nati bisa Ku kuliti dia. Tak tau dia, aku ini guru monsak dari Pusuk Buhit…..he…he…he….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar