Terras St. Carolus
Oleh Marien S.
Maya duduk di bangku depan. Ia memandangku dengan senyum ketika aku menyerahkan bukti siswa baru di kelas kursus bahasa Inggris Abuzal Jl. Salemba Raya Jakarta.
"Di sini saja duduk" ujarnya tanpa kuduga. Ia menggeser duduknya, dan menyuruhku duduk disebalahnya.
"Terima kasih dek" Kupandang sejenak, dengan perasaan percaya diri aku duduk dan tersenyum dan ia membalas senyumku.
Saat itu, aku banyak mendapat bantuan dari Maya, karena kelas itu sudah berjalan satu bulan. Maya menunjukkan bagian-bagian pelajaran yang sudah dilalui.
Satu bulan setelah msuk di kursus itu, aku memberanikan diri mengajak Maya mampir di sebuah warung bakso.
"terima kasih Bang Saor. Aku mau buru-buru, adekku Selvi hari ini tiba dari Solo. Maka aku mau ke stasion Bis Damri sekarang" elaknya. Sejenak aku kecewa, namun aku mendapat ide baru.
"Bagaimana kalau kita sama-sama menjemput adekmu?" ujarnya aku menawarkan jasa. Aku tidak merasa khawatir, karena gajiku masih utuh dikantong.
"Ah...merepotkan abang saja, nggak usahlah" ujarnya. Kami menelusuri Jalan Salemba Raya di depan kampus Universitas Indonesia dulu. Kemudian ia menaiki jembatan penyeberangan, aku ikuti dari belakang.
"Kalau soal repot itu sudah biasa bagiku, asal kamu setuju saja, tentu aku sangat senang" tambahku. Akhirnya ia tersenyum dan aku menyetop bajaj.
Selvy sudah berdiri di loket Damri, ia kelihatn menoleh kesana kemari.
"Itu adekku, Selvy"ujarnya begitu turun dari Bajaj. Aku tersenyum dan mengirinya dari belakang.
"Mbak Maya..." ujar Selvy menyongsong kami. Ia memeluk kakanya, kemudian memandangku curiga.
"Oh..ya.ini Parsaoran, teman kursus bahasa Inggris di Abuzal" ujar Maya memperkenalkan.
"Selvy"ujarnya memperkenalkan. "Mbak Maya kapan testing perawatnya?" lanjut Selvy betanya.
"Besok, dek" ujarnya dan menanyakan keadaan ayah dan adek-adeknya di kampung. Aku baru tahu, Maya tidak tinggal bersama orang tuanya. Maya kost di Jl. Salemba Bluntas, di belakang Rumah Sakit St. Carolus.
Maya mengambil kunci dari dalam tas kecilnya. Aku membantu Selvy mengangkat barang-barang dari Bajaj.
Rungan itu kecil, kamar dan ruang tamu sederhana. Dari tempatku duduk kulihat sebuah Sajadah diatas tempat tidur, dan kain telekung putih yang biasa dipakai untuk sholat tergantung disisi lemari. Buku-buku berserakan diatas meja. Nampaknya Maya sudah mempersiapkan diri untuk ikut test Sekolah Perawat di Rumah Sakit St. Carolus.
Malam itu berlalu dengan keceriaan. Ternyata Maya dan Selvy suka diskusi. Kami larut dengan falsafah hidup. Ia menggambarkan kepribadiannya menghadapi hidup ini tanpa seorang ibu. Sejak kelas VI SD , ibunya telah pergi menghadap Sang Pencipta. Sebagai anak sulung harus membimbing adek-adeknya, sementara ayahnya bolak-balik sebagai guru SD di sebuah pedesaan yang jauh dari tempat tinggal mereka di Boyolali, Solo.
Aktivitas kursusku tidak berlangsung lama. Pekerjaanku di kantor menyita waktu siang malam. Suatu ketika Maya mengirimkan surat , bahwa ia diterima dan sudah mulai belajar di sekolah perawat rumah sakit St. Carolus. Aku merasa bangga, karena selama enam bulan persahabatannku dengannya, telah menganggapku sebagai teman yang tidak bisa dilupakan.
Kantorku tidak jauh dari Rumah Sakit itu. Sehingga setiap kali pulang kantor, aku selalu mengingatnya. Maka aku bertekad untuk menemuinya, karena kuanggap surat itu sebagai pemberitahuan keinginnya untuk bertemu denganku.
Malam Minggu itu aku bertekad menemuinya di asrama perawat. Dan keinginanku itu berhasil. Aku mengajak Maya menonton wayang kulit di Teater Terbuka Taman Ismail Marjuki Jl. Cikin Raya Jakarta. Ia sangat senang, karena ia merasa berada dikampungnya di Solo.
"Mas Parsaoran, kenapa aku dibawa kemari?" ujarnya ditengah pertunjukan wayang kulit itu. Ia menggantungkan tangannya di lenganku.
"Senang aja" jawabku singkat.
"Bilang aja kau ingin menjeratku"ujarnya tanpa menoleh. Aku memandangnya sejenak.
"Kalau ya, bagaimana? Kau keberatan dijerat?" tanyaku dan merapatkan tangannya didadaku. Ia tidak menjawab dan membiarkan tangannya. "Sebenarnya, sejak kursus itu, aku ingin mencintaimu"ujarku lagi. Tiba-tiba ia menarik tangannya. Aku memandangnya heran.
"Aku orang miskin Mas, aku tak pantas dicintai"ujarnya. Aku menariknya keluar dari antara penonton. "Mau kemana Mas?"tanya heran namun pasrah. Aku membawanya berdiri di barisan terbelakang penonton.
"Aku juga anak orang miskin. Apakah orang miskin tak pantas bercinta?" ujarku dan memegang bahunya. Ia diam dan menunduk.
"Aku tahu, kalau orang Batak itu harus kawin dengan orang Batak. Jadi, aku tak mau menderita karena mencintai Mas" jawabnya perlahan.
"Tetapi kau mencintaku, kan Maya?" ujarku lagi. Ia terdiam tak berani memandangku. Kuangkat dagunya perlahan, ia memejamkan mata dan terasa hangat dibibirnya.
"Aku mencintaimu, Mas...."ujarnya di dalam Bajaj ketika kembali menuju asrama putri RS St. Carolus. Ia menyandarkan dirinya kedadaku. Wangi rambutnya alami.
Hari Raya Idulfitri tahun itu, aku kembali dari Sukabumi bersama kawan-kawan dari LSM kantorku. Aku berniat menemui Maya di asrama putri.
"Maya sedang libur. Ia dijemput ayahnya tadi pagi"ujar seorang teman sekamar Maya, yang kutemui di ruang tamu asrama putri. "Ia barangkali merayakan Hari Raya di rumahnya"ujar gadis itu.
Dengan rasa kecewa, aku bergegas ke rumah costnya. Ternyata tempat cost maya gelap. Dari ibu kost kuketahui, Maya bersama Selvy pulang ke Solo.
"Mungkin ia akan menikah"ujar ibu kost menjelaskan. "Tetapi ia menitipkan surat , entah siapa yang namanya Parsaoran"tambahnya dan mengambil surat itu.
"Itu aku, aku yang namanya Parsaoran"ujarku dan menerima surat itu.
Malam itu aku tidak kembali ke rumahku. Aku mampir di kantor dan meminta penjaga malam membuka ruanganku. Kubuka surat yang nampaknya ditulis dengan buru-buru itu.
"Mas Parsaoran yang baik, kalau memang jodoh, kita akan bertemu lagi. Tetapi kalau tidak, kumohon Mas Parsaorn mau mendoakan aku. Dari yang selalu mencintai. Maya" surat itu begitu singkat, entah apa yang mendorongnya begitu cepat menurut panggilan orangtuanya.
Kepergian Maya menaroh luka dihatiku. Setiap kali aku melewati Rumah Sakit itu, wajah Maya selalu membayang.
Perasaan ingin tahu keberadaan Maya mendorongku untuk bertamu di asrama putri Rs. Carolus. Aku mencari wanita teman sekamarnya, Mirna.
"Maya sudah menikah"ujar Mirna. Aku terenyuh, tak mampu bicara. Mirna melihat setetas air mata mengalir dipipiku.
"Laki-laki kog menangis"ujarnya sambil tertawa. Ketawanya lepas sehingga menarik perhatian teman-temannya.
"Aku pulang dulu"ujarku.
"Lo...kalau tak kebertan, aku ingin mengantarmu sampai di pintu gerbang" ujar Mirna ceplas-ceplos. Aku diam saja, tidak menolak dan tidak mencegahnya berjalan disampingku. Kawan-kawan Maya yang sudah mengenalku, menyapa kami.
"Udah.......Mirna aja"ujar salah seorang teman Maya, membuat Mirna tertawa.
Delapan bulan kemudian, Mirna menelepon ke kantorku. Ia memintaku agar segera datang ke ruang gawat darurat rumah sakit itu.
"Maya sedang kritis. Ia sekarang di Unit Gawat Darurat"ujar Mirna di telepon. Aku bergegas, dan berlari ke rumah sakit yang tidak jauh dari kantorku. Aku ingin melihat Maya, ternyata sudah dimasukkan di ICU. Selvy duduk termenung, ia kemudian bangkit dan menyongsongku.
"Mas....maafkan Mbak Maya....."ujar Selvy memelukku dihadapan suami Maya dan ayahnya. "Ia terlalu banyak makan obat, sehingga bayi dalam kandungannya keracunan"ujarnya.
Mirna menarik tanganku dan mengajakku masuk di ICU. Maya tidak lagi sadar, ia terlentang dengan wajah murung dan pucat. Matanya tertutup rapat.
"Maya........"ujarku perlahan, namun aku sadar, Maya tidak lagi mendengarkanku. Tangannya terasa dingin dan membiru.
"Kalau kita bertemu itu berarti jodoh ...tetapi sekarang....kau telah pergi" ujarku dalam hati.
Mirna kembali menarik tanganku keluar dari ruangan itu. Dokter dan perawat mulai membuka alat-alat bantu yang sempat dipasangkan kepadanya.
"inna lillahi wa'innalillahi ro'jiun, biarlah yang dari Allah itu kembali kepada Allah" ujar ayah Mirna pasrah.(***)

seperti pengalaman siapa
BalasHapus