Rabu, 09 September 2009

Cerpen

Jeritan Tengah Malam
Oleh Yulis.k

Masyarakat disekitar sebuah desa arah Sibolga, sudah tiga malam ini tidak dapat tidur nyenyak. Hampir setiap tengah malam kendaraan berat datang ke daerah itu dan berhenti disekitar jembatan sungai besar. Setelah berhenti sesaat, kendaraan itu berlalu dan terdengar jeritan-jeritan yang memilukan.
Sore hari itu sekitarpukul 18.30, Marbohal melintas dari atas jembatan. Entah karena apa, ia merasa merinding dan tiba-tiba kedinginan. Ia memandang sekelilig jembatan itu, perasaannya tidak enak. Karet yang baru di dalam bakul yang baru diambilnya dari kebun, terasa semakin berat.
"Santibi, da ompung !" ujarnya karena merasa ketakutan. Ia menduga, roh-roh halus menghadangnya. Tiba-tiba ia semakin takut, tanpa sengaja ia melihat cairan merah yang seperti gumpalan darah. Ia mempercepat jalannya setengah berlari, tengkuknya terasa berat, seakan-akan ada yang membebaninya. Bayangan-bayangan aneh muncul dibenaknya dan dikait-kaitkannya dengan deru kendaraan bermotor yang setiap tengah malam berhenti dijembtan itu.
Setibanya di rumah, Marbohal meletakkan barang-barang yang dibawanya dari kebun. Badannya merasa penat, kelelahan, keringat dingin mengucur dari keningnya.
"Kenapa kau, pak ?" tanya istrinya curiga. Ia melihat suaminya pucat dan ketakutan.
"Aku ketemu hantu di jembatan Aek Risan"ujarnya.
"Yang bena, Pak !?"tanya istrinya ingin tahu.
Dengan tergesa-gesa ia mengambil teh hangat dan diberikan kepada suaminya. "Minum dulu lah, barangkali karena Bapak terlalu lelah, hingga timbul prangsangka buruk" lanjut istrinya dan membantu suminya membuka kemeja basah yang kenakan sejak dari kebun.
"Masak dulu air, aku mau mandi air panas"ujar Marbohal.
Usai mandi, lelaki setengah baya itu duduk di ruang tamu. Segelas kopi hangat disuguhkn istrinya. Ia masih penasaran dengan rasa takut yang tiba-tiba datang itu. Selama ini ia terbiasa pulang malam namun perasaannya biasa-biasa saja.
Tidak lama kemudian, Marjuang putra sulungnya yang bekerja sebagai guru di salah satu SD di daerah itu, datang. Marbohal merasa senang dan rasa takutnya hilang sama sekali.
"Saya merasa curiga, pasti ada sesuatu yang terjadi di jembatan itu"ujar Marbohal kepada anaknya, setelah menceritakan kejadian.
"Masyarakat desa kita ini pun semakin curiga mendengar adanya kendaran tiap malam berhenti di jembatan itu"ujar Marjuang kepada ayahnya. "Kalau Bapak setuju, kita intip dulu malam ini, siapa tahu ada sesuatu yang tidak beres di kampung kita ini"lanjutnya.
"Berbahaya itu....siapa tahu yang datang itu berniat merampok atau orang-orang yang berniat jahat kepada kita"jawab Marjuang. Ia membayangkan cairan merah di jembatan, yang diduganya gumpalan darah.
"Jangan takut ayah....nanti kita sembunyi di semak-semak. Jangan dulu kita beritahu kepada masyarakat kampung ini" ujar Marjuang.
"Tidak usah pergi ! Kalian masih perlu untuk saya dan keluarga!"ujar istri Marbohal dengan tegas. Ia takut terjadi apa-apa kepada suami dan anaknya. "Pendengaran kita saja itu sebagai seperti deru kendaraan. Itu semua suara setan!"lanjutnya.
Ayah dan anak itu saling memandang. Mereka juga merasa ragu, apakah suara-suara bising itu suara kendaraan bermotor atau suara setan.
"Tetapi aku yakin, suara itu bersumber dari kendaraan bermotor. Kita perlu menyelidikinya"ujar Marjuang dengan pasti. "Kalau Bapak tidak berani, nanti saya dengan Togap pergi kesana"tambahnya.
"Kalau begitu, panggilah Togap"ujar Marbohal.
Menjelang tengah malam, Marjuang dan Togap mengendap-endap diantara semak-semak. Mereka bertekad membuka tabir suara kendaraan yang hampir setiap malam terdengar di desa itu.
"Kita bersembunyi disini saja" ujar Marjuang setelah menemukan tempat yang cocok untuk bersembunyi. "Heh, kenapa kau?" ujarnya, karena celana Togap basah.
"Aku ketakutan....."ujarnya dengan perlahan. Togap tidak mampu menahan rasa takutnya, tanpa sengaja, celananya basah kuyub karena kencing.
"Parbiar ! Sude begu mabiar do tu jolma !"ujar Marjuang meyakinkan Togap. "Dengar ...."ujar Marjuang. Sayub sayu mereka mendengar deru kendaraan bermotor. Deru kendaraan itu datng dari dua arah. Satu dari arah Sibolga dan satu dari arah Tarutung.
Semakin dekat dan semakin dekat.
"Hah....?" Suara-suara itu berhenti di atas jembatan. Tetapi tidak ada ada wujud kendaraan. Marjuang yang tadinya sangat berani, tiba-tiba merasa takut yang amat dalam. Badannya gemetar dan celananya basah kuyub.
"Sudah kubilang.......hantu" ujar Togap gemetaran. Mereka semakin takut karena suasana dijembatan kendengaran riuh, timbul suara-suara aneh.
"Turun !" suara bentakan yang begitu keras.
"Tolooooooong, Ampuuuuuun!" teriakan itu begitu keras dan memilukan, suara perempuan. Marjuang dan Togap saling berpegangan, mereka tidak melihat satu benda pun di atas jembatan.
"Ha ? Siapa itu ?" ujar Togap sambil menujuk ke ujung jembatan. Marjuang menoleh ke arah yang ditunjuk, namun ia tidak melihat apa pun. "Ada yang datang dari bawah jembatan. Mereka membawa tandu"ujar Togap lagi. Marjuang semakin ketakutan, karena tidak ada yang dilihatnya. "Bah......ternyata dijembatan itu ada tiga mayat" ujar Togap lagi. Marjuang menampar pipi temannya itu, karena dianggap mengigau.
Namun Togap semakin banyak berbicara."Mereka sudah menandu mayat-mayat itu"lanjut Togap tanpa perduli pada tamparan Marjuang. Akhirnya Marjuang yang semakin takut itu, tak mampu menahan rasa takutnya. Ia jatuh pingsan.
Togap semakin jelas melihat kegiatan-kegiatan di atas jembatan itu. Ia tidak memperdulikan lagi Marjuang yang sudah tergelatak disampingnya. Dalam pandangannya, ia melihat dua buah truk berwarna gelap berlawanan arah berhenti di atas jembatan. Banyak lelaki berlompatan dari dalam truk dan kemudian beberapa orang lelaki perempuan yang tangannya diikat ke belakang di dorong dan jatuh terjerembab di atas aspal.
"Jangan dibunuh kami....kami tidakbersalah..."ujar salah seorang dari antara yang diikat tangannya itu.
"Diam !!! Penghianat bangsa !"teriak orang-orang yang turun dari kendaraan truk itu. Dengan tiba-tiba salah seorang dari antara mereka, menghunus sebuah parang dari balik bajunya dan mengayunkan ke arah salah seorang yang terikat tangannya itu.
"Jangaaaaaaannn!" Togap berteriak kuat-kuat, kemudian pemandangan aneh itu hilang. Marjuang yang tadinya tergeletak tak sadarkan diri, terbangun mendengar teriakan Togap.
"Heh....Togap !" ujar Marjuang. Togap tertawa kuat-kuat, matanya melotot dan air liurnya berjatuhan.
"Mereka membunuh.....mereka membantai !"ujar Togap. Matanya berputar-putar dan tiba-tiba bangkit dan berlari meninggalkan marjuang. Marjuang terpaksa berlari mengikuti Togap yang berlari begitu kencang.
"Togap.....! Tunggu ....!" teriak Marjuang, ia khawatir kalau Togap celaka.
"Mereka membunuh.....mereka membantai ....! Jangaaaaaaan!"Teriak Togap dan terus berlari. "Aku mau mencegahnya....!" Togap turun dari bukit tempat mereka bersemunyi dan berlari sangat cepat ke arah jembatan.
"Togap...! Jangan lari ke sana !"teriak Marjuang. Tetapi Togap terus berlari ke arah jembatan.
"Jangan bunuh merekaaaaaaa!"teriak Togap begitu sampai di atas jembatan. Marjuang sangat ketakutan, karena Togap naik keatas teralis jembatan.
"Jangaaaaaaaan!" teriak Marjuang. Namun terlambat, Togap telah melompat dn terjun ke dasar sungai.
Marjuang merasa takut sekali, ia tidak mampu menerima kejadian itu. Bayangan Togap dan saat-saat ia menyebutkan melihat sesuatu di jembatan membuat Marjuang kehilangan akal sehat. Ia memandang ke dasar sungai. Banyak orang di sana, ada yang manangis, ada yang bernyanyi. Dan beberapa orang menoleh kepadanya.
"Bah...Togap ada disana bersama mereka ...."ujar Marjuang dalam hati.
"Saya sudah disini, lompatlah....!" perasaannya, Togap memanggil Marjuang. Lelaki itu merasa yakin ada sesuatu di dasar sungai. Ia melihat Togap berjalan meninggalkan tempat itu.
"Tunggu.....!!"teriak Marjuang dan melompot dari tempat dimana Togap melompat kedasar sungai.
Esok paginya, jenasah Toga dan Marjuang ditemukan masyarakat dengan kondisi mengenaskan. Sejak saat itu, jeritan-jeritan yang memilukan sering terdengar di jembatan itu. (***)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar